Mujahirin: Golongan Insan Yang Dikecualikan Dari Menerima Keampunan Allah S.W.T

Mujahirin yaitu Orang Yang Bermaksiat Secara Terang MUJAHIRIN: Golongan Manusia Yang Dikecualikan Dari Mendapat Keampunan Allah S.W.T



Mujahirin yaitu Orang Yang Bermaksiat Secara Terang-Terangan
Seperti telah kita ketahui, setiap Muslim akan mendapat ampunan dari Allah, selama dia menjauhi kesyirikan. Walaupun demikian, ada satu golongan insan yang dikecualikan dari mendapat ampunan Allah. Siapa mereka? Mereka yaitu orang-orang yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam hadis berikut ini:
عن سالم بن عبد اللّه قال: سمعت أبا هريرة يقول سمعت رسول اللّه صلّى اللّه عليه وسلّم- يقول: كلّ أمّتي معافى إلّا المجاهرين، وإنّ من المجاهرة أن يعمل الرّجل باللّيل عملا، ثمّ يصبح وقد ستره اللّه فيقول: يا فلان عملت البارحة كذا وكذا، وقد بات يستره ربّه، ويصبح يكشف ستر اللّه عنه
Dari Salim bin Abdullah, dia berkata, Aku mendengar Abu Hurairah radhiyallahu’ anhu bercerita, bahwa dia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali Mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa yaitu seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, lalu pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut. Yang mana dia berkata: ‘Hai Fulan, tadi malam saya telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.” [H.R. Bukhari (6069) dalam kitab Fathul Bari dan lafal ini milik Bukhari, dan riwayat Muslim (2990)]
Apa maksud dari معافى yang terdapat dalam hadis?
Syaikh Shalih al-Utsaimin mengatakan, bahwa yang dimaksud معافى dalam hadis yaitu bahwa setiap umat Muslim akan Allah ampuni dosa-dosanya. [Lihat Syarh Riyadh ash-Shalihin hal 24, jilid 3]
Akan tetapi kata tersebut juga sanggup dimaknai dengan apa yang dikatakan oleh Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilaly. Beliau mengatakan, bahwa makna kata tersebut yaitu setiap umat Muslim akan selamat dari mulut insan dan gangguan mereka. [Lihat Bahjatun Nadzirin hal 299, jilid 1]
Apa saja bentuk terang-terangan dalam berbuat dosa?
1. Orang yang melaksanakan maksiat secara terang-terangan di hadapan manusia. Seperti apa yang dilakukan para pemain sinetron dan komedian yang bermain di layar televisi. Jenis orang yang menyerupai ini telah melaksanakan dua perbuatan dosa sekaligus, yaitu:
1a). Menampakkan kemaksiatannya
1b). Mencampurinya dengan dagelan dan kebohongan. Dan telah kita ketahui bersama, bergotong-royong kedua hal tersebut yaitu perbuatan tercela menurut syariat Islam, dan juga pandangan manusia.
2. Orang yang telah menyingkap apa yang telah Allah tutupi dari perbuatan maksiatnya. Seakan-akan, mereka itu menceritakan perbuatan maksiatnya alasannya yaitu gembira dan meremehkan dosa yang telah dia lakukan itu. Mereka ini tidak sanggup mencicipi nikmatnya ampunan Allah yang Dia berikan kepada para hamba-Nya.
3. Seperti apa yang dilakukan pelaku maksiat yang mengumumkan perbuatan maksiatnya kepada khalayak umum. [Lihat Nadhratun Na’im, hal 5548, jilid 11]
Dampak ancaman dari terang-terangan berbuat dosa:
• Pelaku perbuatan ini menimbulkan Allah Azza wa Jalla murka terhadapnya.
• Pelaku perbuatan ini telah mengharamkan bagi dirinya sendiri ampunan Allah ta’ala.
• Manusia akan merendahkan pelaku perbuatan ini dan meninggalkannya.
• Diperbolehkan bagi kita untuk memperbincangkannya alasannya yaitu keburukannya tersebut.
Dan masih banyak yang lain. [Lihat Nadhratun Na’im hal 5555, jilid 11]
Beberapa faidah yang sanggup kita ambil dari pembahasan ini:
• Kerasnya celaan bagi para pelaku perbuatan ini.
• Menceritakan perbuatan maksiat kepada khalayak umum menimbulkan pelakunya melaksanakan kemaksiatannya secara terus menerus. Dan hal ini juga menimbulkan insan ikut mengamalkan perbuatan maksiat tersebut, sehingga dia akan mendapat dosa dari dosa-dosa para pengikutnya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka. Karena penunjuk kepada keburukan menyerupai pelaku keburukan itu sendiri.
• Pelaku perbuatan ini menciptakan dosanya menjadi besar, walaupun pada asalnya dosa yang dia lakukan itu kecil.
• Meng-ghibah pelaku mujaharah tidak termasuk dari perbuatan tercela. Para ulama telah mengecualikan hal ini dalam beberapa hal.
• Terang-terangan dalam kemaksiatan yaitu dosa tersendiri selain dari dosa maksiat itu sendiri, alasannya yaitu dia telah meremehkan kebesaran Allah azza wa jalla.
• Terang-terangan dalam kemaksiatan menimbulkan tersebarnya kemungkaran di antara kaum muslimin.
• Barang siapa yang Allah tutupi aibnya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di Akhirat dan tidak akan memperlihatkannya di hadapan insan yang lain. Dan ini termasuk dari luasnya rahmat Allah ta’ala untuk para hamba-Nya.
Dan masih banyak yang lain. [Lihat Al-Manahi asy-Syar’iyyah hal 306, jilid IV dan Bahjatun Naadzirin, hal 299, jilid I]
Ibnu hajar rahimahullahu dalam kitabnya Fathul Bari mengatakan, bahwa barang siapa yang berkeinginan untuk menampakkan kemaksiatan dan menceritakan perbuatan maksiat tersebut, maka dia telah menimbulkan Rabb-nya murka kepadanya sehingga Dia tidak menutupi aibnya tersebut. Dan barang siapa yang berkeinginan untuk menutupi perbuatan maksiatnya tersebut alasannya yaitu malu terhadap Rabb-nya dan manusia, maka Allah tabaraka wa ta’ala akan menunjukkan epilog yang akan menutupi aibnya itu. [Lihat Nadhratun Na’im hal 555. – 5554]
Semoga Allah ta’ala senantiasa menunjukkan kita taufik dan istiqamah di atas jalan-Nya. Aamiin.

Sumber : http://nasihatsahabat.com

Click to comment